dan kutulis mereka yang menari-nari dalam fikiranku, kecuali sedikit

Kamis, 30 Oktober 2014

Relawan, tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai


Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Namun, setiap melihat teman-teman mengajar dibeberapa komunitas, saya menganggap itu berbeda. Profesi guru memang luar biasa. Mengajar, dari yang tidak tahu  menjadi tahu. Beberapa teman saya bergabung dalam sebuah komunitas sebagai seorang pengajar. Yah, mereka mengajar puluhan anak yang sebagian besar tidak sempat merasakan nikmatnya dunia pendidikan formal. Mereka melakukan kegiatan tersebut diluar jam kuliah dan saya rasa inilah salah satu bagian yang luar biasa. Di tengah-tengah kesibukan sebagai mahasiswa, dalam rangka pemerataan pendidikan dan mengembangkan potensi yang ada, mereka memilih kegiatan positif dengan mengajar. Saya tertarik dan menganggap kegiatan tersebut super keren namun belum bisa turun langsung ke lapangan, entah karena belum menemukan teman yang bisa diikuti ke komunitasnya atau karena malu-malu, hehe. Tapi, setelah tiga tahun, kemarin saya bisa merealisasikannya. Bergabung menjadi salah satu pengajar bagi anak-anak di sebuah rumah baca. Masih awal memang dan masih dalam proses perkenalan tapi setidaknya saya sudah bisa merasakannya. Kegiatan ini sebenarnya biasa dilakukan saat praktek lapangan dalam salah satu mata kuliah. Tapi, yang satu ini berbeda. Ini adalah panggilan hati. Sehingga, saya menyebutnya relawan. hehehe, eaaaa.

Yah, menjadi volunteer atau sukarelawan. Relawan adalah mereka yang bekerja atas kemauan sendiri dan tidak dimotivasi oleh uang atau materi. Menjadi relawan menurut saya adalah sesuatu yang menarik dan luar biasa. Kedatangannya dinanti. Saat datang dan disambut senyuman anak-anak yang diwajahnya terpancar semangat belajar yang menggebu-gebu. 

Dalam tulisan yang sangat sederhana ini (dan susunan kalimat yang saya rasa tidak begitu bagus -_- ), saya ingin bercerita sedikit pengalaman menjadi relawan dan pengalaman relawan lain :). 

Tidak mudah memang mengajar mereka. Kadang susah diatur tapi dari situlah kita para relawan juga bisa belajar. Sedikitnya dalam sebuah komunitas (saya tidak tahu menyebutnya dengan kata lain) terdapat 30-50 anak didik yang terdaftar untuk dibina oleh para relawan. Tidak mudah memang dan tidak semua datang saat sekolah informal itu dimulai. Setelah mencari tahu, tidak hanya dilokasi sekitar rumah baca yang saya tempati tapi di tempat lain juga bahwa anak-anak yang tidak bersekolah ternyata bekerja baik itu sebagai pengamen ataupun pemulung dan melalui pekerjaannya itu mereka menghasilkan uang sehingga apabila anak-anak ini masuk sekolah sudah pasti mereka tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang. Berdasarkan pengalaman salah satu relawan, orang tua dari beberapa anak yang ingin dibina bahkan pernah mengatakan, "anak saya boleh ikut belajar tapi gantinya harus ada uang seperti saat anak saya bekerja". Tentu saja ini adalah hal yang sangat disayangkan. Saat dibeberapa daerah terpencil banyak anak-anak yang membutuhkan pendidikan dan tenaga pengajar justru ada yang membiarkan kesempatan belajar begitu saja. Tapi kita tidak boleh menyalahkan sikap mereka. Mereka juga hidup dan harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Sepertinya kembali lagi bagaimana pemerintah mensiasati kehidupan rakyatnya dengan menyediakan lapangan kerja sehinggaa mereka tidak bergantung pada anak yang seharusnya duduk manis menerima pelajaran di sekolah.

Saat ini sudah banyak komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan.Semoga semangat menjadi relawan bisa terus mengalir dalam darah kita. Menjadi bagian dari dunia pendidikan. Dengan meluangkan waktu untuk mengajar mereka yang tidak sempat merasakan pendidikan formal, kita mengambil andil dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengingat kata-kata Anis Baswedan, yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan :
 Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai


Salam volunteer 
Salam relawan.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar (keep brotherhood) :)

Instagram

Twitter

Translate

Text Widget

Copyright © winaakurniaa | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com