dan kutulis mereka yang menari-nari dalam fikiranku, kecuali sedikit

Selasa, 03 November 2015

Seperti Apa Anda Ingin Dikenang Setelah Meninggal ?

Pertanyaan yang muncul dalam mata kuliah Leadership ini seperti peluru yang (sengaja) ditembakkan tepat di dahiku. Entahlah, pertanyaan yang mulai membuat saya berfikir, merenungkan bagaimana saya menjalani hidup selama ini dan apa saja yang sudah saya lakukan. 
Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Namun, seperti apa anda ingin dikenang setelah itu adalah pilihan anda. Semua ditentukan dari bagaimana cara hidup anda saat ini, seberapa respect anda terhadap diri anda, orang lain dan lingkungan anda. 
Well, saya sendiri ( dan anda juga mungkintentu ingin dikenang sebagai orang baik oleh orang lain.  Jika saya meninggal nanti, saya ingin orang-orang mengenang saya dengan hal-hal yang baik tentunya yaitu orang-orang akan tersenyum dan bahagia saat nama saya disebut. 
Specificly, saya ingin dikenang sebagai orang yang suka berbagi dan peduli sesama maka dari itu mulai sekarang saya melibatkan diri dalam organisasi-organisasi sosial yang banyak terlibat di masyarakat atau yang lebih dikenal dengan relawan. Melalui wadah tersebut saya bisa menyalurkan diri dalam berbagai kegiatan yang turun langsung ke masyarakat atau pada hal-hal yang berdampak positif. 
Saya juga dikenang melalui tulisan-tulisan saya. Saya belum/tidak berminat untuk menulis buku tapi saya termasuk orang yang suka menulis di sosial media seperti blog dan tumblr. Saya juga ingin dikenang sebagai agen perubahan dalam dunia kesehatan (entah sebagai apa dalam bidang apa dan bagaimana, let me make a planning and make it happen, i am sure i can do that.
So, memikirkan seperti apa anda dikenang setelah meninggal seperti membuat surat wasiat untuk diri anda sendiri, untuk nama anda yang menjadi media anda bersosialisasi dengan lingkungan semasa hidup. 
Buatlah orang lain mengenang anda dalam hal-hal kebaikan. Bahwa karena anda, orang tersebut merasa bahagia, bahwa jika bukan karena anda, sesuatu mungkin akan lebih buruk. 
Mari menjadi pribadi yang selalu tergerak dalam hal-hal kebaikan.

Rabu, 30 September 2015

Proposal Hidup Untuk Tuhan

Proposal tentu tak asing lagi ditelinga kita apalagi bagi mereka yang berkecimpung di dunia organisasi (baik itu di sekolah-sekolah, universitas dan perusahaan). Namun, tidakkah kita sadar bahwa seharusnya kita mempersiapkan proposal untuk kehidupan kita.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, proposal identik dengan mereka yang berada di dunia organisasi, membuat kegiatan-kegiatan yang bisa jadi dana dan tenaga yang dibutuhkan sangat besar. Dalam kasus seperti inilah proposal dimainkan.

“Yah, kalau untuk acara yang akan digelar satu atau tiga hari saja kita butuh proposal dengan persiapan yang matang, mengapa kita tidak yang berjalan puluhan tahun tidak membuat proposal ?” . Kira-kira begitulah pengantar pertama dalam buku Jamil Azzaini seorang motivator terbaik dalam bukunya yang berjudul “Tuhan, inilah proposal hidupku”. Buku ini diperkenalkan oleh seorang dosen favorite di semester awal program pascasarja tahun ini, Prof. dr. Veni Hadju. Kalau difikir-fikir, memang ada benarnya juga, mengapa kita membiarkan hidup kita mengalir tanpa arah, tujuan dan cita-cita. Memang hal seperti ini sebenarnya sudah mulai diperkenalkan saat kuliah S1 dulu. Mulai dari menyusun rencana hingga 20 atau 30 tahun ke depan sampai menulis 100 cita-cita. Tapi entah saya yang malas atau memang masih berusaha menemuan arah yang jelas dan menyusun tujuan dengan rapi sehingga rasanya saya berjalan begitu saja, entahlah (saya membela diri :D).

Dalam buku ini berisi tentang bagaimana langkah-langkah menyusun proposal hidup kita. Mulai dari bagaimana kita mengenal diri kita terlebih dauhulu seperti potensi dan kebutuhan kita, lingkungan kita, menyusun tujuan dan impian-impian yang realistis yang bisa jadi jumlahnya sangat banyak. Yah, bermimpilah, gratis kok. Tapi ingat, mewujudkannya butuh pengorbanan ya, itu yang menarik.


Dalam buku ini juga dituliskan bahwa pada tahun 1989, periset yang dipimpin oleh Mark McCormack melakukan wawancara dengan semua responden pada tahun 1979. Hasilnya, 13% yang menyatakan memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik, tetapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata dua kali lipat dibandingkan dengan 84% (yang belum memiliki dan menyusun rencana hidup). Yang luar biasa, 3% lulusan yang telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik dan tertulis memiliki penghasilan yang besarnya rata-rata 10 kali lipat dibandingkan 97% lulusan sekolah bisnis tersebut.




Ingat, setiap orang adalah spesial termasuk saya dan tentu saja Anda. Tidak ada orang yang benar-benar seperti kita. Kita adalah orang-orang yang terpilih. Begitu kita lahir, tumbuh dan meninggal, tidak ada lagi makhluk yang seperti kita. Setiap dari kita adalah satu-satunya. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang hidupnya sama persis dengan kita. Oleh karena itu, setiap dari kita benar-benar spesial.

Be grateful because you are the only one.
Mulailah memikirkan arah hidup anda dan menyusun rencana serta menetapkan target-target yang ingin dicapai. Manusia punya hak untuk berencana namun ingat Allah yang menentukan karena kita semua percaya bahwa Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

Ada baiknya jika anda memiliki buku karya Jamil Azzani ini sebagai pedoman penulisan proposal anda.

Hidup ini singkat, jangan menunda lagi. Berikan yang terbaik untuk hidup anda.

Untuk dunia dan akhirat anda. 

Rabu, 03 Juni 2015

Pulau Kodingareng Keke "Surga Bawah Laut Pertamaku"

Snorkeling, mengajak saya melihat indahnya surga bawah laut.

Belakangan ini acara jalan-jalan seru saya habiskan dengan semua yang berbau air, mulai dari pantai ke pulau. Setelah Pulau camba-cambang, pantai ujung dan apparalang, kembali saya berkunjung (bahasa kerennya ngetrip, hehe) ke Pulau Kodingareng Keke yang berlokasi di Kota Makassar. Yah, selain Pulau Samalona, masih banyak pulau lainnya di Makassar yang patut jadi destinasi ngetrip, tak terkecuali pulau kodingareng keke.

Pulau tak berpenghuni ini terletak di Kec. Ujung Tanah, Makassar berjarak kurang lebih 14 km dari Kota Makassar, memanjang dari Timur laut hingga barat daya (sumber:wisatamakassar.com).

Perjalanan saya mulai di dermaga Makassar. Sebelumnya saya dan rombongan yang jumlahnya 20 orang berkumpul di jalan veteran untuk bersama-sama menuju dermaga. Kapal sudah di pesan, jadi langsung berangkat. Sekitar pukul 09.00 pagi kami berangkat dari dermaga. Waktu itu ombak agak kencang. Ini adalah perjalanan laut terlama saya (maklum, hehe). Selama perjalanan, saya tak hentinya memandang sekitar, yah saya memang suka laut, saya perhatikan kapal-kapal yang terparkir ataupun yang sedang lewat, pulau-pulau, ombak, ikan-ikan dan yang sangat disayangkan adalah sampah. Beberapa kali saya memperhatikan sampah sepanjang perjalanan. Makanya, berkunjung boleh saja tapi tetap kebersihan nomor satu.

Setelah kurang lebih satu jam, bersandarlah kapal kami di dermaga pulau kodingareng keke. Pulau berpasir putih yang dari jauh sudah nampak keindahannya. Di pulau ini tidak ada gazebo, yang ada hanya pohon-pohon, tidak banyak memang tapi masih mencukupi untuk pengunjung berteduh di bawahnya. Setelah menurunkan bekal, kami mencari tempat berteduh, memasang tenda dan menyiapkan untuk acara bakar-bakar ayam. Dan, mulailah kami, yeaah :D

Selesai mengisi kampung tengah yang sejak pagi sudah kelaparan, mulailah kami menuju bibir pantai pulau ini. Masih terpesona dengan pulau kodingareng keke, disebelah barat pulau kita bisa menemukan kedalaman air laut yang sangat-sangat dalam, jadi hati-hati jangan sampai tenggelam. Kedalaman laut disebelah baratnya mencapai lebih dari 20 Meter. Selain itu disebelah barat pulau ini anda bisa melihat dataran penghalang yang terbentuk akibat proses alam yaitu proses sedimentasi yang tersusun dari material pecahan-pecahan koral (Sumber : anekawisatanusantara.com)

Di sinilah saatnya saya make it happen one of my biggest dream, snorkeling. Sudah sejak lama saya sangat ingin snorkeling melihat keindahan bawah laut. Lengkap dengan peralaran snorkeling + pelampung dan ditemani oleh kakak yang sudah cukup berpengalaman, mula-mula saya yang belum pernah melakukan ini sebelumnya disarankan untuk latihan bernafas dengan mulut melalui selang dari alat snorkeling. Merasa yakin sudah bisa, saya ditemani menuju laut jauh dari bibir pantai. Dan, waah, masyaAllah, pemandangan yang sangat indah, terumbu karang, ikan-ikan saya saksikan langsung dibalik kacamata snorkeling. Saya jg melihat bagian dalam bawah laut yang sepertinya menuju dasar laut, airnya sangat biru dan saya berada di dekat area itu. Benar-benar pengalaman yang luar biasa. Saya hampir tak pernah melihat ke permukaan karena terlalu asyiknya. Berfoto sambil snorkeling tak lupa saya abadikan. Kapan lagi, hehehe. Agak lama melihat keindahan yang saya bisa bilang surga bawah laut, kami bergegas berenang menuju ke pinggir pantai, arus juga cukup deras tapi pengalaman sangat luar biasa. Akhirnya, di pulau kodingareng keke ini menjadi pengalaman snorkeling pertama saya. Saya menjadi lebih dan lebih mencintai lautan.

Waktu menunjukkan pukul 14.00 dan sudah terlalu lama bermain air, kami pun bergegas pulang. Kapal yang membawa kami sudah lama menunggu. Perjalanan pulang dimulai dan tak kalah serunya. Di tengah perjalanan, hujan turun dan akhirnya kami harus hujan-hujanan di atas kapal sampai ke dermaga.

Semoga ada kesempatan untuk snorkeling di tempat berbeda. Walaupun keindahannya sama luar biasa, surga bawah laut.

(Ditulis melalui asus smartphone, blog_app)

Sabtu, 16 Mei 2015

Jelajah "Pengacara" Part 2 (Apparalang)

Seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya, Indonesia memang indah. Setelah bulan lalu menikmati indahnya pulau camba-cambang di Pangkep, sekarang waktunya menjelajah Apparalang di Kabupaten Bulukumba (kota kelahiranku, hehe).

Berbicara tentang Kabupaten Bulukumba atau yang biasa disebut Bumi Panrita Lopi ini tak lepas dari banyaknya tempat-tempat wisata yang seiring waktu sangat dibicarakan banyak orang. Sebut saja pantai Bira salah satu wisata bahari yang sudah dikenal lama oleh masyarakat nasional maupun internasional. Kemudian dikenal juga beberapa tempat wisata yang lain seperti Pantai Bara dan Pantai Samboang menambah deretan destinasi wisata bahari di Kota ini. Lama setelah itu (tidak terlalu lama juga sih), muncullah spot wisata terbaru nan eksotis (katanya) bernama Apparalang yang tidak kalah memukaunya. Yah, Apparalang termasuk spot wisata yang baru ditemukan (terekspos) di awal tahun 2015 walaupun keberadaannya sudah lama diketahui oleh masyarakat sekitar.

Walaupun lokasinya di kampung sendiri, Rabu kemarin adalah pertama kalinya saya mengunjungi tempat tersebut (masa orang luar saja berbondong-bondong ke sana, saya belum, hehe). Sampai di sana saya langsung terpesona dengan si Apparalang ini. Memang benar kata orang banyak dan gambarnya memang tidak bohong, masyaAllah ciptaan-Nya, sangat indah. Di Apparalang, kita bisa menikmati indahnya air laut yang begitu jernih ditambah dengan desiran angin laut yang sepoi sepoi menyapa pengunjung. Sangat cocok untuk mereka yang ingin suasana jauh dari kebisingan.

Dengan mengendarai motor, sekitar kurang lebih sejam, sampailah saya dan rombongan keluarga di tempat eksotis ini. Tidak ada biaya masuk, hanya sumbangan seikhlasnya saja. Tidak sabar, saya langsung menuju tangga yang mengarah ke bawah mengantar kita lebih dengat dengan air (kurang tahu apa istilahnya, hehe). Jangan lupan, harus hati-hati dan "permisi" di sini. Next, dan apa lagi kalau bukan sesi foto-foto, gak afdol nanti, heheh (kadang saya memang fotogenic). Setelah puas berfoto ria, kami beristirahat di warung-warung kecil sambil makan gorengan. Memang belum banyak warung di sana, yang adapun masih sangat sederhana tapi itu tidak mengurangi indahnya spot wisata ini. Rencananya saya mau coba snorkeling, tapi waktu itu ombak dan angin tidak memungkinkan, berbahaya jadi ditunda dulu deh. Kalau ada yang mengajak, saya mau datang untuk yang kedua kalinya, tapi kalau bisa jangan saya yang mengendarai yaa, hehe.

Lokasi Apparalang terletak di Desa Ara Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba ini dapat ditempuh dan diakses dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 20 menit dari arah Pantai Tanjung Bira dan atau 60 menit dari pusat ibukota Kabupaten Bulukumba. Kawasan pantai yang berjarak sekitar 200 KM dari Kota Makassar ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 30 menit perjalanan darat. Selain itu, pantai Apparalang juga dimungkinkan untuk dapat diakses dengan angkutan umum antar daerah bertarif variatif antara 45-55 Ribu rupiah persatu orang penumpang. Kendati demikian, para pengunjung yang datang dengan menumpangi alat transportasi umum harus mengakhiri perjalanan sampai di Desa Ara. Sebab, pantai Apparalang belum dapat diakses dengan menggunakan alat transportasi umum (beritadaerah.co.id).

Jalan menuju ke sana bisa dibilang masih kurang bagus dan butuh perhatian pemerintah. Kondisi jalan yang belum diaspal dan sebagian juga masih berupa tanah yang sangat berbahaya bagi pengendara setelah turun hujan. Sekitar 2 km sebelum sampai di Apparalang juga sangat sepi, hampir tidak ada rumah warga, hanya pepohonan disepanjang jalan. Tapi, dengar-dengar, pemerintah akan segera memperbaiki keadaan tersebut mengingat pengunjung bukan hanya mereka yang dari Kota Bulukumba saja, tetapi sudah banyak pengunjung dari luar Bulukumba.

Beberapa fasilitas dan sarana-prasarana
pendukung lainnya, seperti lokasi penyewaan alat selam, perahu, motor, penginapan sejenis villa, bungalow, restoran, hotel melati bertarif murah, dan kamar mandi tengah dibangun dan dipersiapkan untuk menunjang kehadiran Pantai Apparalang sebagai destinasi daerah tujuan wisata di semenanjung selatan Kota Bulukumba (beritadaerah.co.id).

So, visit Bulukumba guys :)

Rabu, 06 Mei 2015

Jelajah "Pengacara" part 1 (Pulau Camba-Cambang dan Terapi Ikan)

Pengacara alias pengangguran banyak acara, hhahaii, gelar yang cocok untuk saya sekarang ini setelah beberapa bulan pasca wisuda. Pernah sih, hampir tiga bulan terakhir ini menghabiskan waktu di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur, itung-itung nimba ilmu heheiii (karena itu blog ini seperti tak terurus, ckckck ). Nah, akhir bulan Maret saya "hengkang" dari kampung Inggris menuju Makassar, niatnya kembali untuk mendaftar program magister, semoga diberikan yang terbaik. Aamiin. Eh malah cerita ini, peace!!!. 

Saya ingin bercerita (kembali) pengamalan saya pasca ujian, waktu itu sekitar dua minggu yang lalu saya dan empat orang teman saya menghadiri acara syukuran salah seorang teman kami, Nahda, di daerah Pangkep, Sulawesi Selatan dan diinformasikanlah bahwa ada pulau yang sangat indah, sayang kalau dilewatkan. Alhasil,  kami menginap agar bisa menuju pulau esoknya. Kembali, saya ingin berbagi cerita tentang Negara kita yang indah ini. Yah, Pulau Camba-Cambang begitulah masyarakat menyebutnya. Belum begitu terkenal memang. Saat ini oleh Pemerintah Daerah Kepulauan tempat tersebut  sedang dalam proses pengembangan sebagai tempat wisata (yang sekarang saja sudah keren tempatnya pak, apalagi kalau sudah dikembangkan. Hehe).

Esoknya, sekitar pukul 08.00 pagi kami berangkat menuju Pelabuhan Maccini Baji, sekitar 20 menit by car dari rumah temanku. Berbekal makanan yang bisa dibilang sangat nikmat seperti Konro (makanan khas Makassar), nasi, paru goreng dan kue kami memulai perjalanan menuju pulau impian, hhahaiiii. Mobil kami tinggalkan di bahu jalan dalam pelabuhan lalu naik perahu untuk menuju pulau. Dengan biaya Rp 150.000 untuk pergi dan pulang kami sampai di pulau tersebut. Memang Pangkep (Pangkeje'ne' Kepulauan) benar-benar daerah dengan pulau yang banyak. Dalam perjalanan menuju pulau camba-cambang, nampak pula beberapa pulau yang lain, pulau yang tidak berpenghuni. Awalnya pulau camba-cambangpun demikian namun semua berubah saat pemerintah daerahnya ingin menjadikan pulau ini sebagai destinasi wisata andalan pangkep. 

Pulau Camba-Cambang
 
Kurang lebih 15 menit sampailah kami, menginjakkan kaki di pulau camba-cambang. Sembari menikmati pemandangan di pulau kami membuka bekal yang kebetulan waktu menunjukkan saatnya makan siang (eh, hehe), itu adalah saat sedang lapar-laparnya. Penjual makanan di pulau tersebut memang sangat jarang. Kalau tidak salah hanya ada satu kios. Di pulau ini juga disediakan gazebo dan villa. Viewnya seperti rumah kayu biasa yang saling berdempetan (entahlah, saya jg tak sampai masuk ke villanya) dan sepertinya tak sedikit orang yang menyewa tempat tersebut. Di sana juga ada lapangan berpasir putih (yah, banyak yang bermain bola), ada ayunan dkk (seperti di taman bermain), dan banyak juga pengunjung yang sedang menikmati ikan bakar (mereka bakar sendiri di sana :D, asyiieek). Berkunjung ke suatu tempat, tak afdol rasanya tanpa jepretan, hehehe maka berfoto-fotolah kami. 

Nah, yang di belakangku ini adalah villa yang ku maksud :D

having lunch :)







Keren kan ?? Come on, visit camba-cambang island

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam (saja), perjalanan kami berlanjut ke tempat terapi ikan di Leang Kassi, sekitar 15 km dari ibukota kabupaten Pangkep.
Di daerah sekitar Leang Kassi inilah, warga setempat memanfaatkan mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, tiada henti untuk memelihara ikan dalam bahasa lokal yang disebut pai-pai. Ikan Pai-pai dipercaya bisa mendatangkan rezeki tersendiri bagi mereka, dibuatkan kolam khusus, di mana setiap pengunjung dapat mencelupkan kaki mereka untuk terapi ikan. Terapi ikan (Fish Treat) sebenarnya hal baru dalam terapi kesehatan, termasuk bagi warga Minasate’ne Pangkep. Terapi ikan semacam ini asalnya dari daerah utara dan pusat Timur Tengah. Dalam prakteknya, seseorang hanya mencelupkan kakinya ke sebuah sungai yang berisi ikan jenis garra rufa dan seketika itu juga puluhan bahkan ikan tersebut mengerumuni kaki (source : BeritaPangkep)





Saat pertama kali mencelupkan kaki memang terasa sangat geli tapi lama kelamaaan (harus tahan gelinya) juga terbiasa dan sangat mengasyikkan :D. Bahkan ada beberapa orang yang merendam tubuhnya dalam kolam tersebut (wahh, apa jadinya :D).


Salah satu alasan mengapa pengunjung pada akhirnya banyak menyempatkan singgah untuk terapi ikan di Leang Kassi adalah karena murah, hanya Rp 5000 perorang, dengan waktu celup kaki selama 30 menit dan berlaku kelipatannya, Rp 10.000 per orang untuk waktu selama 60 menit. Bagi yang berendam, dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 per 30 menit. Pengunjung kebanyakan datang dari wilayah perkotaan, seperti Makassar dan sekitarnya. Di Makassar sendiri, sudah ada beberapa mall, yang menyiapkan terapi ikan, namun tarifnya mahal, sekitar Rp 80.000 sampai Rp 100.000,- per 60 menitnya. Terapi ikan di Leang Kassi dengan sendirinya memiliki manfaat ganda bagi masyarakat dan para pengunjung. Objek wisata prasejarah Leang Kassi dan leang prasejarah di sekitarnya ikut dikenal dunia luar. Hanya saja, membludaknya pengunjung di obyek wisata prasejarah seperti itu, biasanya dibarengi dengan maraknya perbuatan vandalisme, mencoret-coreti dinding gua, pohon, sampai membuang sampah dalam lingkungan obyek wisata, termasuk di dalam gua (source : BeritaPangkep).
 
Intinya, beberapa hari yang lalu sang pengacara ini (baca:saya) tercengang dengan DP salah seorang teman di sosial media BBM. Sebuah gambar kertas  berlatar pemandangan dari atas gunung dengan tulisan "jangan di rumah aja, Indonesia itu luas, Indonesia itu indah" (Saya : ). Memang sih saya sering keluar tapi tidak "sekeluar" yang biasanya tetap kebanyakan di rumah.




So guys, atur waktumu, go outside :D

Selasa, 03 Maret 2015

Buta Warna ?



Belakangan ini para pengguna internet (baca : netizen) sedang ramai membicarakan warna sebuah gaun, apakah gaun tersebut berwarna biru-hitam atau emas-putih. Ya, gambar yang diunggah oleh pemilik akun Tumblr, Swiked pada tanggal 25 Februari 2015 tersebut telah menggemparkan dunia. Sehinngga,  gambar ini telah memenangkan gelar untuk ‘cerita internet paling gila’ minggu ini dengan cukup mudah.
Terlepas dari itu semua, saya pribadi, mengambil pelajaran atau mengingat kembali bahwa hal ini mengingatkan kita tentang kemampuan dalam mengenali warna. Di mana ada sebagian orang yang tidak mampu membedakan antara warna yang satu dan yang lainnya. Yah, kita menyebut kelainan ini dengan nama “Buta Warna” atau sex linked .

Buta warna (Color Blindness) adalah kekurangan penglihatan atas warna. Mata tidak akan melihat warna seperti biasanya jika ada masalah dengan pigmen pada reseptor warna. Dokter spesialis mata Amyta Myranti menjelaskan bahwa buta warna adalah ketidakmampuan mengenali warna, baik satu ataupun seluruh warna. Hal ini terjadi karena kurangnya pigmen pada sel kerucut di lapisan retina mata. Mata mempunyai tiga jenis sel kerucut yang sensitif terhadap cahaya dan terletak di dalam retina. Setiap jenis sel ada yang sensitif terhadap warna merah, hijau, atau biru. Manusia dapat membedakan warna bila mempunyai sejumlah tertentu sel-sel seperti itu. "Pigmen di sel kerucut retina inilah yang memungkinkan orang mengenali warna, jika salah satu pigmen hilang, maka mata akan memiliki masalah melihat warna tertentu. 

Untuk tahu anda buta warna atau tidak, anda bisa melakukan tes buta warna yang biasa dilakukan dengan melihat gambar di bawah ini (tes ishihara) :


Buta warna merupakan kelainan genetika yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Inilah sebabnya mengapa kelainan ini (buta warna) lebih banyak terjadi pada laki-laki. Laki-laki yang terbentuk dari kromosom XY hanya mempunyai satu kromosom X. Dengan demikian, jika kromosom X-nya terganggu atau rusak, maka dia berpotensi lebih besar mengalami buta warna. Sedangkan pada perempuan, terdapat istilah sebagai “pembawa sifat”. Pembawa sifat tidak mengalami buta warna karena perempuan terbentuk dari kromosom XX, jika salah satu kromosom X-nya mengalami gangguan, masih ada satu kromosom X lagi namun berpotensi sebagai faktor penyebab buta warna pada anaknya (keturunan). 

Berbicara tentang buta warna, kelainan ini terbagi atas dua yaitu buta warna parsial (sebagian) dan buta warna total. Pada buta warna parsial, penyandang mengalami defisiensi (kekurangan) pigmen dalam sel retina sehingga tidak bisa melihat warna tertentu saja. Gabungan defisiensi merah dan hijau adalah gangguan yang paling sering terjadi, sedangkan defisiensi biru jarang sekali. Sementara, pada buta warna total, penyandangnya tidak bisa mengenali warna lain, kecuali hitam dan putih. Untungnya, kasus yang disebabkan ketiadaan pigmen warna pada sel retina ini sangat jarang terjadi. 

Selain keturunan, buta warna juga dapat disebabkan oleh kecelakaan, kerusakan retina atau cedera (trauma) pada otak yang menyebabkan pembengkakan di lobus occipital. Kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet karena tidak menggunakan pelindung mata secara benar juga bisa menyebabkan buta warna.

Tahukan anda ?
Ternyata penderita buta warna cenderung mempunyai semangat yang lebih tinggi dalam mencapai kesuksesannya, bahwa kekurangan yang mereka miliki bukanlah penghalang untuk meraih mimpi-mimpi mereka. Mereka mempunyai strategi sendiri. Mereka sadar dan mereka berjuang.

Okeh teman-teman, itulah sedikit penjelasan singkat mengenai buta warna. Semoga menambah wawasan teman-teman dan semoga bermanfaat.
Untuk lebih detail, teman2 dapat membaca artikel-artikel yg lain tentang buta warna.

Referensi :



Minggu, 14 Desember 2014

"Berawal dari kebiasaan kecil" bersama #Brightfuture Volunteer, Project Sunlight



“sanitasi mempengaruhi kita semua”
“tantangan terbesar kita adalah sikap apatis”
“setiap anak berhak untuk mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar”
“kita bisa membangun Indonesia yang lebih baik”

Di atas adalah petikan beberapa kalimat Dira Noveriani dalam iklan Project Sunlight, Unilever. Dalam iklan tersebut jelas sekali motivasi yang disampaikan untuk bekerja sama dalam mewujudkan masyarakat sehat, untuk bisa beperilaku hidup bersih dan mengambil bagian dari sebuah perubahan. 

Berawal dari iklan itulah saya berrminat untuk menjadi bagian dari project sunlight. Entah kenapa, sepertinya saya sangat suka dan tertarik dengan kegiatan-kegiatan seperti itu. Tidak ada bayaran memang. Selagi punya waktu dan memang bisa disempatkan, why not, menjadi bagian dari mereka (sukarelawan(ti)/volunteer). 

Dibagian akhir iklan tadi, dicantumkan alamat website www.projectsunlight.co.id. Awalnya, saya tidak berfikir untuk membuka web, tapi hari itu karena saya sedang di kampong halaman dan kurang kerjaan, makanya saya bela-belain pinjam modem sepupu untuk cek web (penasaran saja, hehe). Yah, karena modemnya dipinjam sehari, ada waktu deh buat mengintip isi web-nya dan ternyata ada formulir yang akhirnya saya isi. Yah, saya isi seperti formulir-formulir di website lain (yang diisi tapi tidak ada kegiatannya, cuma ngasih info dan beberapa materi, lumayanlah pastinya).
 
Beberapa hari kemudian pihak PS (project sunlight) menelfon dan meminta untuk hadir dalam pembekalan (oh, ternyata yang ini ada tindak lanjutnya “fikirku”). Kegiatannya dipercepat sehingga info tidak sempat disebarkan ke teman-teman. Sehari sebelum pembekalan saya kembali ke Makassar. Pembekalan dilaksanakan di Balaikota Makassar. Akhirnya saya pergi sendiri, tidak ada kenalan (huumm,,). Pada pembekalan tersebut disampaikan beberapa point penting tentang unilever dan project sunlight dari pihak Unilever Jakarta, Unilever Makassar, Yayasan Peduli Negeri (YPN) dan suntikan semangat dari bapak Wawali Kota Makasar, Daeng Ical. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang (sebenarnya ada satu lagi “dimulai”-nya, tapi lupa :D -YPN-). Inti kegiatan kali ini adalah para volunteer #brightfuture akan melakukan penyuluhan, memberikan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa(i) di SD yang telah ditentukan. Pembagian team dan sekolah dilakukan saat pmbekalan.

Hari H dilaksanakan Sabtu kemarin, 13 Desember 2014. Terdapat sekitar 24 volunteer tiap sekolah dan beberapa pendamping dengan 4 volunteer tiap kelas (Saya dapat bagian di SDI Mamajang II Bertingkat Kelas 6 loh, hehehe). Penyuluhan berlangsung pukul 09.30 am. Namanya juga anak-anak, kita sih menyuluh, tapi anak-anaknya gak mau diam, ribut dan kocak gila. Perlu tenaga lebih untuk mengendalikan kelas, alhasil suara harus dikeluarkan lebih besar (sampai tenggorokan huuft, heheh), tapi tetap seru dan mengesankan. Pengalaman yang luar biasa walaupun ini adalah kesekian kalinya menyuluh dihadapan anak-anak SD (belum terlalu sering sih).

Kenapa anak SD ? Karena menanamkan kebiasaan hidup sehat harus dilakukan sejak kecil dan sebaiknya diulang-ulang sehingga akan menjadi kebiasaan.  Terbiasa hidup sehat tentu memberikan efek besar untuk masa depan kita. 

***foto kegiatan***





Banyak hal-hal yang dianggap kecil tetapi dampaknya sangat besar, seperti mengajarkan cara cuci tangan dan gosok gigi yang baik dan benar. Maka dari itu jangan ragu untuk berbagi ilmu.

Mari biasakan hidup sehat.
Dukung Masa Depan Sehat.

Thanks Project Sunlight, Unilever, telah memberikan kesempatan menjadi bagian dari #brightfuture volunteer Makassar.
Instagram

Twitter

Translate

Text Widget

Copyright © winaakurniaa | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com